Content

0 comments
Beribadah di Vihara - Seorang sedang melakukan ibadah di Vihara Dharma Bhakti - Petak Sembilan, Jakarta Barat. Vihara ini merupakan vihara tertua di Indonesia, mulai dibangun pada tahun 1600-an.
Baca selengkapnya »
0 comments
Menyuarakan hak dalam Pilkada 2009 - Masyarakat sedang menunggu panggilan untuk menggunakan haknya dalam Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) di Kelurahan Lubang Buaya, Jakarta Timur. Masih banyaknya masyarakat yang belum menyuarakan haknya dalam Pilkada kali ini, menjadi persoalan serius yang dihadapi pemerintah.
Baca selengkapnya »
0 comments
Karnaval Kebudayaan - Seorang peserta karnaval  Kebudayaan HUT TMII (Taman Mini Indonesia Indah) ke-34 dari Kabupaten Nias, Sumatera Utara sedang memperagakan atraksi Lompat Batu. Acara yang diadakan pihak TMII ini, bertujuan untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia kepada seluruh masyarakat lokal maupun mancanegara.
Baca selengkapnya »

Dunia Anak-anak

0 comments

Bermain di TMII - Anak-anak sedang bermain di Istana Anak- anak, TMII (Taman Mini Indonesia Indah), Jakarta Timur. TMII merupakan tempat wisata pilihan para orang tua untuk mengisi waktu berlibur para anak.
Wisata Sejarah - Anak-anak sedang bermain di Museum Keprajuritan, TMII (Taman Mini Indonesia Indah), Jakarta Timur. Mengajak anak ke tempat bersejarah merupakan hal yang tepat dilakukan para orang tua untuk memperkenalkan anak tentang sejarah bangsa Indonesia.
Harus Bekerja - Seorang anak sedang meluruskan paku yang bengkok, Gunung Geger Bantang, Jawa Barat. Banyaknya anak Indonesia yang hidup dalam kemiskinan, membuat mereka memiliki 2 kewajiban, yaitu belajar dan bekerja. Hal ini membuat hak mereka untuk bermain hilang.

Baca selengkapnya »
0 comments
Hiburan yang merakyat - Dua orang pengunjung pasar malam di daerah Jatiwarna, Pondok Gede, Bekasi sedang melihat salah satu wahana bermain yang terdapat di pasar malam. Di tengah banyaknya tempat hiburan "elit" di Ibukota, pasar malam menjadi alternatif masyarakat untuk menikmati hiburan karena harganya yang terjangkau.
Baca selengkapnya »

Merbabu Yang Melelahkan

0 comments
Baca selengkapnya »

Landscape

0 comments
Baca selengkapnya »

Potrait

0 comments
Gesang Martohartono, Maestro Keroncong Tanah Air 

Retno Maruti, Maestro Tari Jawa Klasik

Baca selengkapnya »

Kopi Aroma, Pertahankan Cara Tradisional Untuk Cita Rasa

1 comments
“Permisi pak, kalau pabrik kopi Aroma yang ada di Jalan Banceuy ini ada di sebelah mana ya?”, tanyaku, dengan gelengan kepalanya, seorang bapak tersebut menjawab, wah nggak tahu tuh mbak. Belum banyak memang masyarakat luas, khususnya masyarakat Bandung yang mengetahui pabrik kopi ini karena penampilan gedungnya yang terlihat kusam dan tua, alat-alatnya pun masih menggunakan mesin-mesin tua tahun 1930-an yang sangat tradisional, diantaranya memakai kayu sebagai bahan bakar. Berbeda dengan pabrik kopi pada umumnya, kopi yang diproduksi terlebih dahulu melewati proses penyimpanan selama 5 sampai 8 tahun, waktu yang cukup lama bukan?. Pemilik pabrik kopi Aroma, Widya Pratama mengatakan, hal ini dilakukan untuk menghilangkan kadar asamnya dan menajamkan aroma kopi.“Dengan begitu, kami tak perlu menambahkan bahan kimia dan berbagai essens. Hal inilah yang membedakannya dengan kopi yang ada di pasaran. Kadar asam dan bahan kimia kopi Aroma lebih rendah, sehingga tak memicu kita untuk buang air kecil setelah meminumnya. Inilah bedanya dengan kopi yang beredar di pasaran saat ini. Diminum saat pagi pun aman, tidak akan menimbulkan sakit perut atau sembelit,” ujar Widya yang juga menjadi Dosen di fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran Bandung. Kopi Aroma menawarkan 2 jenis kopi, Arabika dan Robusta. Perbedaan keduanya terletak pada khasiatnya, jika Arabika beguna untuk merilekskan badan, sedangkan Robusta untuk meningkatkan vitalitas, membuat melek sepanjang malam dan terutama untuk meningkatkan gairah seks. Selain terdapat mesin-mesin, dalam ruang pemroses kopi juga terdapat tiga buah sepeda yang diletakkan diatas, widya beralasan, sepeda itu merupakan warisan dari ayah saya yang mendirikan pabrik ini pada 1930, dulu beliau membangun pabrik ini dengan menggunakan sepeda itu sebagai alat transportasi, sengaja saya letakkan diatas agar saya selalu ingat perjuangannya, sehingga selalu memotivasi saya.
Baca selengkapnya »